|
Berikut adalah tanggapan saya atas tulisan pada blog Mas Ronny . Tanggapan saya berwarna biru.
Terima
kasih Mas Ronny senang sekali bisa berdiskusi dengan mas. Saya coba
menanggapi pertanyaan/pernyataan mas satu-persatu ya.
Mengenai
Senjata Nuke dan PLTN, jujur ya… saya ga ngerti soal senjata nuke yang
digunakan oleh pemerintah RI (itupun bilamana ada,) karena setahu saya,
Indonesia tidak memiliki SDM yang mampu mengelola senjata Nuke
tersebut. dan saya percaya 100% bahwa RI tidak akan pernah mencoba
untuk menciptakan Nuke
Paragraf
pertama tulisan mas mengetengahkan masalah bom atom Hiroshima &
Nagasaki. Jadi saya hanya memberikan info saja dalam kaitan dengan
rencana Indonesia menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai.
Alasannya bukan karena tidak punya SDM mas, bisa saja kalau mau, tetapi
sifat kita yang cinta damai. Makanya kita pada tahun 68 menandatangani
perjanjian NPT. Silakan baca ini : NPT
Back
to PLTN, dari awal (maaf ya) saya tidak mendukung PLTN, kenapa? kembali
saya tanyakan kepada semua pembaca… mengapa harus PLTN? apakah dengan
melihat dari murahnya cost menjadi pertimbangan dari resiko yang
ditimbulkan terhadap alam negara kita?
Jika
suatu negara hendak memanfaatkan PLTN, pertimbangannya banyak sekali
mas, tidak hanya melihat pada sisi ekonomis saja, tetapi harus dikaji
bidang lainnya seperti sosial politik, environment, kebutuhan supply
and demand energi jangka panjang, kesiapan SDM, kesiapan
peraturan/perundangan terkait masalah nuklir dll. Makanya karena yang
diutamakan adalah keselamatan manusia, setiap negara pasti ada badan
pelaksana dan pengawas tersendiri yang mengurusi masalah nuklir. Nah
langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan dalam membangun sebuah
PLTN mas bisa baca panduan IAEA di blog saya : Alur Pembangunan PLTN di Indonesia
Seperti
diketahui, study akan PLTN ini sudah dilakukan mulai dari tahun 1970an,
suatu waktu yang sebenarnya lebih dari cukup untuk mempersiapkan
pembangunan PLTN. Persiapannya sudah mencakup study-study bidang yang
saya sebutkan diatas. Mari kita tinjau satu bidang saja dulu, sisi
supply-demand. Salah satu tugas negara seperti yang tertuang dalam
undang-undang energi No 30 tahun 2007 adalah negara wajib menjamin
(secure) ketersediaan energi dimasa mendatang. Mas, mau tidak-mau,
untuk memenuhi kebutuhan base-load listrik kita, selain PLTU dan PLTG,
kita hanya punya 2 pilihan lagi, PLTN dan PLTPB. PLTS dan PLT angin
tidak bisa dihandalkan untuk mensuplay base-load, hanya cocok untuk
peak-load saja, karena sifatnya yang tidak kontinue. PLTA skala besar
sudah tidak dapat dibanguan lagi karena sudah jenuh, artinya
sumber-sumber tenaga air utama sudah dimanfaatkan (we are talking about
energy supply and demand in Java-Madura-Bali interconnected system).
Untuk PLTPB saat ini pemerintah sedang berusaha giat-giatnya
mempermudah pembangunannya dengan dikeluarkannya berbagai regulasi
untuk menarik investasi. Targetnya tahun 2025 bisa menyumbang 5 %,
sebuah target yang sangat optimistik, padahal sekarang saja
pemanfaatannya baru sebanyak 807 MW yang lokasinya tersebar diberbagai
daerah. Artinya perlu banyak explorasi, karena kapasitas
pembangkitannya biasanya 20-300-an MW. Oleh karena itulah, sudah
saatnya PLTN masuk ke sistem (Studi CADES 2002) membantu energi lainnya
dalam upaya mensecure kebutuhan energi dimasa yang akan datang. Aspek
lainnya nanti dibahasnya ya.
Ini
masih prediksi saya, adalah beberapa alasan mengapa di Indonesia di
tentang oleh banyak orang, (khususnya negara2 yang maju). bila mana
terjadi satu kesalahan (satu saja, tidak perlu banyak-banyak) dalam hal
memanage pabrik PLTN ini, resikonya adalah kerusakan alam yang permanen
di mana butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan kondisi seperti
semula bila mana sampai terjadi kesalahan tersebut, yang rugi adalah
bumi kita, bukan hanya negara kepulauan yang bernama Republik Indonesia.letak
bangsa kita yang strategis terletak di jalur katulistiwa yang memiliki
kandungan ozon yang banyak, bilaman sampai terjadi kerusakan ekosistem
makan menimbulkan ketidakseimbangan di bumi, dan akibatnya akan muncul
suatu bahaya global,
mas,
mas… ini sudah bukan merupakan rahasia lagi, bahwa yang merupakan
radiasi alami (yang tercipta daripada matahari dan sebagainya)
memberikan efek yang negatif yang lebih besar daripada radiasi buatan,
maksdunya, secara timednya, radiasi alami tercipta secara jangka
panjang dan lama untuk di pulihkan,. sedangkan radiasi kimia (yang
tentunya kita berbicara radiasi nuklir) bisa jadi akan mematikan
satu-tiga generasi kehidupan.
Radiasi
itu sebenarnya bisa berguna bisa juga bermasalah, merugikan. Tergantung
bagaimana orang dibelakangnya (men behind the gun). Radiasi dari sinar
sinar radioaktif nuklir untuk aplikasi kedokteran dan agriculture tentu
membawa kebaikan dan kesejahteraan manusia. Tetapi bila digunakan untuk
bom atom, maka seperti yang mas katakan, bisa memusnahkan manusia.
Untuk aplikasi PLTN juga begitu kah? Well, referencenya pasti ke
Chernobyl ya. Memang gara-gara accident itulah industri nuklir didunia
dirundung image keburukan. Silakan mas baca dulu disini tulisan ahli
fisika astronomi tentang apa yang sebenarnya terjadi disana: Fakta soal Chernobyl
Sejauh
ini, jepang yang pernah di bom nuklir dan memiliki kekuatan dan
keseringan gempa yang sama (atau lebih) dengan Indonesia mengoperasikan
55 buah PLTN nya dengan selamat. Terakhir tahun 2007 ketika gempa
dahsyat melanda PLTN Kashiwazaki Kariwa, sistem safety PLTN secara
otomatis dapat menshutdown reaktor sehingga reaksi fisi dapat berhenti
dengan sempurna. Itu membuktikan teknologi PLTN sudah mampu menjawab
tantangan kemungkinan terjadinya accident. Rusia, bekas negara
UniSoviet dimana Chernobyl berada (tepatnya Ukraine) saat ini
mengoperasikan 31 reaktor dan akan menambah 11 lagi yang baru.
Pertanyaannya : kok ga kapok ya? atau ga trauma kecelakaan chernobyl
akan terjadi lagi? Sebenarnya penjelasannya harus bermula dari reactor
technology, apa yang terjadi disana, bagaimana komponen safety PLTN
bisa mencegah terjadinya radiasi keluar dari reaktor dan containment,
yang akhirnya bisa menyimpulkan bahwa PLTN safe. Kalau mas tertarik,
insyaallah saya akan jelaskan kemudian. Untuk sementara coba lihat dulu
animasi dari sistem safety sebuah PLTN disini : Safety systems ESBWR
“Karakteristik
kelistrikan di Kazakhstan sangat mendukung penggunaan small reactors.
Project di Kazakhstan ini adalah sebagai pilot project nya SMART,
sehingga apabila ini berhasil, developer SMART bisa lebih confident
menawarkan (atau bahkan diminta) oleh negara2 yang tertarik akan
teknologi small reactors”.
coba
anda review sendiri komentar anda di quote atas, dalam komentar anda,
anda masih mengatakan kata “Apabila ini berhasil”. maaf, mungkin saya
tidak memiliki pendidikan yang cukup mengenai teknologi nuklir. tapi
setahu saya dalam teknologipun ada kadang kalanya muncul kemungkinan
faktor kegagalan 1% dari total kesuksesan,. selain itu anda sendiri
mengatakan apabila ini berhasil. apakah anda masih belum optimis bahwa
hal tersebut belum tentu berhasil?
Untuk
teknologi SMART (small reactor, 300 MW) yang akan di bangun di
Kazakhstan, iya itu benar baru rencana mas, faktor keberhasilannya
perlu dipertanyakan. Sementara PLTN yang rencananya akan dipakai oleh
kita adalah skala besar, 1 unit diperkirakan 1000 MW dan teknologinya
sudah banyak yang proven, dioperasikan sudah puluhan tahun dengan
selamat. Tinggal kita pilih saja. Untuk SMART ya nanti dulu, kalau mau
dioperasikan di Indonesia, tunggu dulu hingga teknologi nya benar-benar
proven. Kita kan tidak mau coba-coba. Namun, pemerintah Kazahstan
mungkin mempunyai pemikiran yang berbeda dengan kita, tentunya mereka
sudah menganalisanya dalam-dalam.
Rokok
lebih berbahaya daripada NUke?? maaf mas, ini tidak sesuai dengan
pendapat saya. bahaya rokok tercipta karena kita merokok. sedangkan
bahaya dari Nuklir tercipta karena adanya SDM atau teknologi yang
mengalami suatu kesalahan. dari segi akibatnya juga lumayan. dari
rokok, yang terkena dampaknya adalah perokok pasif, perokok aktif, dan
keluarga dan teman2 perokok. sedangkan bahaya dari Nuklir adalah satu
sampai 3 generasi kehidupan punah! adalah kesalahan perokok yang
merokok dampaknya keluarga perokok, sedangkan bahaya nuklir adalah
kesalahan seseorang atau sistem dampaknya adalah semua lingkungan dan
ekosistem
Tentang
merokok dan bahaya nuklir memang tidak ada kaitan atau jawaban pasti,
tergantung dari sudut pandangnya. Misalnya mau dihitung dari jumlah
korban akibat Rokok dan kecelakaan nuklir? Atau dampaknya seperti yang
mas katakan? Jawabannya pasti beragam. Dan hak mas untuk berbeda
pendapat dengan saya .
Saya berani mengatakan PLTN aman karena saya tahu apa yang terjadi
didalamnya, bagaimana probability risk accidentnya, penanggulangannya
dan tetek bengeknya.
terimakasih
mas, bukan berarti penulisan ini menolak program pemerintah, namun saya
lebih menekankan kepada agar pemerintah lebih berhati-hati dalam
menentukan sikap dan kebijakan di mana keputusan yang diambil sangat
beresiko tinggi
Begitu
mas, mohon maaf kalau uraian saya tidak menjelaskan pertanyaan mas.
Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengubah pandangan mas untuk Pro
PLTN, hanya ingin sharing/diskusi secara ilmiah saja.
|
Comments
Ditilik dari sifat tersebut diatas bagaimana kalau dalam organisasi yang membidangi nuklir serdiri tidak konduksif oleh karena itu program PLTN perlu dilakukan analisis dan kajian kembali oleh pemerintah kalau tidak akan mengorbankan 2 s.d 3 generasi mendatang.
(radiasi nuklir bisa jadi akan mematikan satu-tiga generasi kehidupan).
Fakta soal Chernobyl Quote
RSS feed for comments to this post.