|
Berikut adalah tanggapan saya dari tulisan pada blog JePITS
yang diposting pada tanggal 9 November 2007yang lalu yang bertajuk : MENGONTROL KEBIJAKAN NEGARA MELALUI PLTN.
Oleh : Harispebe*
*staf pengajar di Poltek Malang
Awalnya, saya kurang interest dengan rencana pembangunan PLTN (Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir) di Indonesia yang sedianya akan didirikan di Gunung
Muria, Jawa Tengah. Hanya saja, saya teringat diskusi saya dengan Izzuddin bahwa
potensi energi terbarukan di Indonesia yang meliputi air, angin, dan sinar surya
melebihi dari sumber energi di Indonesia yang kita gunakan saat ini. Bahkan,
potensi angin yang ada juga lebih besar daripada potensi angin yang berada di
negeri kincir angin, Belanda.
Latar Belakang
John Perkins, dalam pengakuan Bandit
Ekonominya menyebutkan bahwa dirinya diutus ke Negara-negara dunia ketiga guna
mengemban misi ekonomi yaitu memastikan agar korporasi yang mengutusnya bisa
leluasa menghisap sumber-sumber ekonomi dari dunia ketiga. Dalam job
description- nya, dia bertugas untuk memastikan ketersediaan energi bagi
indstri-industri, memainkan angka-angka indikator kesejahteraan untuk menarik
minat investor dan terakhir adalah ikut dalam pembangunan di dunia ketiga.
Salah satu mega proyek dari bandit ekonomi ini adalah PLTU Paiton. PLTU ini
menggunakan teknologi dengan biaya operasional yang tinggi. Sebagai gambaran,
harga jual listrik yang dihasilkan oleh Paiton 30% lebih tinggi dari pada
pembangkit listrik yang sama di Taiwan yang juga menggunakan batu bara sebagai
bahan bakarnya.
Mengapa didesain merugi?
Potensi sumber daya alam dan
manusia Indonesia telah menarik banyak pihak untuk mengeksploitasinya. Cadangan
batu bara Indonesia yang berlimpah, meskipun pada grade batubara muda, tetap
menarik bagi Negara lain dan investor (asing).
Usaha untuk menekan biaya produksi listrik dilakukan dengan mendapatkan bahan
baku (batu bara) dengan harga yang semurah-murahnya. Walhasil, pengusaha batu
bara enggan untuk memasok ke paiton karena harga yang ditawarkan kurang
kompetitif dan lebih memilih untuk menjual batu bara mereka ke Negara tetangga
yang menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Selain itu, harga listrik yang mahal akan membuat Negara melakukan subsidi.
Otomatis hal ini akan mejadi beban pemerintah. Dana yang semestinya bisa
disalurkan guna keperluan lain seperti pendidikan dan kesehatan, habis terserap
digunakan sebagai subsidi listrik yang didesain harga produknya mahal tadi.
Dengan agenda neo liberalisme yang menginginkan dicabutnya subsidi pada
berbagai bidang, akan menyebabkan tidak bisa bersaingnya berbagai produk
Indonesia di pasaran local dan global. Harga jual produk buatan Indonesia akan
relative lebih tinggi sebagai akibat harga listrik sebagai sumber energinya juga
tinggi.
PLTN: hasrat siapa?
Hingga saat ini, ada 2 negara sebagai
penyedia teknologi nuklir yaitu amerika dan rusia. Meski era perang dingin telah
usai, namun dalam era sekarang dua Negara ini masih bersaing dalam segala
bidang.
Fakta menunjukkan bahwa dengan memilki reactor nuklir kemungkinan untuk
mendiversifikasikan produknya menjadi senjata nuklir juga cukup terbuka. Seperti
halnya Iran yang dipercaya oleh amerika sedang mengembangkan senjata nuklir
dengan berlindung pada reactor nuklrinya yang juga dicurigai oleh lembaga nuklir
internasional (IAIE) meskipun dalam investigasinya IAIE tidak menemukan bukti
diversifikasi ke senjata nuklir toh Iran juga dikenai sanksi Internasional
(embargo ekonomi).
Di asia tenggara sendiri, belum ada Negara yang menggunakan teknologi nuklir
sebagai pembangkit listrik. Sehingga dengan memilki PLTN akan menjadikan RI
mempunyai daya tawar dan disegani di asia tenggara.
Sepengetahuan saya, pembangkit listrik yang berada di Indonesia lebih banyak
yang menggunakan teknologi dari amerika (dan sekutunya). Dengan menempatkan
reaktor nuklir di Indonesia, otomatis reaktor tersebut bisa dijadikan sebagai
alat control terhadap kebijakan-kebijakan Indonesia, baik kebijakan local maupun
global. Invasi amerika terhadap iraq merupakan sejarah tragis yang mengkin
berulang dengan obyek Indonesia bila Indonesia tidak patuh dan taat kepada
amerika. Ibaratnya, mendirikan PLTN sama dengan menanam bom waktu maha dahsyat
yang sewaktu-waktu siap untuk diledakkan, tergantung dari suasana politik yang
ada.
Namun melihat kedekatan hubungan antara RI dengan rusia yang dipicu oleh
embargo persenjataan oleh Amerika dan Inggris, utamanya dalam pengadaan
Alutsista milik departemen pertahanan, tidak menutup kemungkinan teknologi yang
digunakan akan disediakan oleh rusia. Apalagi dengan mengambil teknologi nuklir
dari Rusia seperti Iran, kemungkinan untuk mendiversifikasikan produk menjadi
senjata nuklir juga terbuka lebar tanpa khawatir kebijakan Indonesia akan di
tekan oleh Amerika. Apalagi Rusia mengklaim bahwa teknologi nuklir yang mereka
kembangkan adalah teknologi yang murah dan mudah dalam perakitan.
Tulisan di bidang kebijakan teknologi macam gini ini yang kita tunggu-tunggu.
Dulu kalian kan mau konsen di bidang ini.
Komentar 2 : Rovicky
Mengapa ngga menengok Perancis, Jepang, Korea, atau malah Iran ? Banyak
“provider” atau kontraktor energi nuklir (PLTN) selain kedua negara itu loo
Komentar 3 : Gerie
Kita memang punya cadangan energi yg besar & lengkap. Dari sumber fossil
(batubara, minyak, gasbumi), panas bumi, air, angin, matahari, biofuel, bahkan
uranium. Saat ini memang masih bertumpu pd energi fossil yg dinilai msh
ekonomis, namun diperkirakan akan cepat habis kecuali batubara yg msh cukup
lama. AS sebagian besar bertumpu pd minyak & gas. China pd batubara. Tapi
dunia sdh merasakan dampak penggunaan bahan bakar fossil sbg sumber energi dg
terjadinya effek rumah kaca & pemanasan global. Sementara itu sumber energi
alternatif (spt geothermal, angin, tenaga air, biofuel) msh kalah ekonomis
dibanding energi fossil. Juga angan2 utk menggunakan hidrogen yg dipisahkan dari
air laut, teknologinya msh sangat jauh. PLTA (air) yg dulu ekonomis, menjadi
kurang ekonomis, krn debit air yg tdk pasti akibat gundulnya hutan2 blm lagi
pendangkalan waduk2.
Idealnya memang hrs bertumpu pd energi yg renewable (non
fossil, non nuklir). Tapi gambaran diatas menunjukkan tingkat kesiapan energi
alternatif blm cukup memenuhi pertumbuhan kebutuhan energi. Jadi menurut saya,
bbrp tahun kedepan kita msh hrs bertumpu pd energi fossil komplementer dg energi
lain (geothermal, tenaga air) yg hrs diperbesar porsinya di masa datang.
Kekurangannya “terpaksa” ditambal dg sumber energi “cepat saji” yaitu nuklir.
Walaupun tetap hrs diingat bhw “tambalan” (nuklir) tadi hrs bersifat sementara,
sambil mengupayakan mapannya energi alternatif yg terbarukan (air, udara,
geothermal, matahari, tumbuhan dll). Utk itu diperlukan aktif & fokusnya
lembaga riset, perguruan tinggi, LSM nasional maupun internasional utk bersama
sama krisis energi yg bisa terjadi dlm waktu yg tdk lama lagi.
Komentar 4 : Chairul Hudaya
Terima kasih atas tulisannya, ikut sumbang pendapat walau sudah 1 tahun
berlalu.
1. Tidak ada kaitannya jika Indonesia mengembangkan teknologi PLTN dengan isu
pengembangan mass destructive weapon, karena negara kita termasuk dalam jajaran
yang menandatangani Non Proliferation Treaty (NPT), lain halnya dengan Iran yang
menarik diri dari NPT. FYI, untuk membuat bom nuklir diperlukan teknologi
pengayaan uranium hingga 99 %, sedangkan untuk teknologi PLTN hanya butuh
3-5%.
2. Di negara-negara asia tenggara, Indonesia adalah negara yang paling siap
untuk membangun PLTN. Namun, jika rencana pemerintah selalu mundur dari yang
telah ditetapkan, maka negara kita akan tertinggal dari Malaysia, Thailand dan
Vietnam yang juga sedang mempersiapkan pembangunan PLTN.
3. Sama seperti komentar Pak Rovicky, banyak kontraktor/investor dari negara
selain USA. Walaupun pada akhirnya memilih teknologi dari USA, kekhawatiran
terhadap kontrol kebijakan sangat berlebihan. Oleh karena itu, faktor penting
ketika kita bernegosisasi dengan para kontraktor asing adalah masalah
technology-transfer knowledge. Seberapa besar mereka akan open teknologi mereka,
termasuk dalam memberdayakan industri lokal sebagai pendukung industri PLTN.
4. Untuk Mas Gerie, Opsi “sementara” untuk berapa tahun? FYI, life-time PLTN
itu 40 tahun, dan bisa diperanjang hingga 60 tahun dengan capacity factor
rata-rata 80-90%. Menurut saya, nuklir memang harus sudah saatnya masuk sesuai
dengan PP No 5 tahun 2006. Nuklir bukan sebagai kompetitor minyak maupun gas,
apalagi renewable energy. Ia adalah teman yang membantu berkembangnya energi
baru & terbarukan sekaligus mengamankan cadangan fossil fuels dalam negeri.
|
Comments
forever nuclaer for indonesia… Quote
Salam kenal mas dari saya gonuklir. Quote
RSS feed for comments to this post.