|
Berikut adalah komentar saya dari sebuah tulisan oleh Dhita Yudistira
Keterangan = CH : Chairul Hudaya dan Mas DY : Dhita Yudistira
CH : Mas Dhita Yudistira ikut sumbang pendapat. Saya komentari point per point ya.
Mas
DY : Prinsipnya, saya orang yang akan selalu memilih solusi yang ramah
lingkungan walau pun biayanya lebih tinggi. Apakah PLTN lebih tidak
ramah lingkungan? Belum tentu. Kalau PLTN digantikan oleh PLT bertenaga
batu bara atau BBM, dengan daya yang sama gas CO/CO2 yang terbuang ke
atmosfir akan jauh lebih sedikit menggunakan PLTN.
CH
: Mas Yudis, konsep penggunaan energinya perlu disepakati dulu,
berdasarkan PP No 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional,
energi nuklir diharapkan bisa masuk kedalam system Jawa-Bali dengan
total suplay energi sebesar 2 % hingga tahun 2025 untuk membantu energi
lainnya dalam memenuhi kebutuhan listrik di masa yang akan datang. Jadi
jelas bukan untuk menggantikan fossil fueled power plant, tetapi
membantu mengurangi penggunaannya untuk menghemat cadangan yang ada.
Faktanya, I don’t want to say that, but it’s true, produksi batubara
dan minyak bumi Indonesia cenderung menurun, sedangkan demand naik
terus. PLTN bukan satu-satunya sumber energi yang harus dikembangkan.
Geothermal misalnya harus bisa berkontribusi sebanyak 5 %, solar, wind
and biomass sekitar 3%. Namun yang jelas, untuk pasokan base-load,
pilihannya hanya terletak pada PLTN, PLTU/G, PLTA dan PLTP . PLTU sudah
digenjot dengan crash program 10.000 MW dan PLTA untuk Jawa-Bali sudah
jenuh, artinya tidak ada yang bisa dimanfaatkan lagi untuk sekala
besar. Sementara PLTS dan PLTAngin tidak bisa diharapkan untuk
mensuplay base load dikarenakan sifatnya yang tidak continue.
Mas DY : Dalam kasus ini,
paling-paling menurut saya, kita masih punya sumber daya panas bumi dan
air yang belum dimanfaatkan. Jadi kenapa harus pakai PLTN. Saya sih
lihat para ahli nuklir itu seperti tukang aja, sesuai istilah: kalau
kamu ahli menggunakan martil, semuanya terlihat seperti paku.
Seolah-olah nuklir hanya satu-satunya solusi. Tapi mungkin ada
hitung-hitungan lain.
CH : Betul mas, kita
punya potensi cadangan energy geothermal yang sangat besar. Namun
karakteristik dari energi ini, tidak berkumpul pada suatu tempat, ada
di sumatera, jawa, bali, kalimantan dll. Sehingga harus banyak biaya
yang dikeluarkan untuk explorasi diberbagai tempat. Untuk memenuhi
target 5 % saja, pemerintah sudah harus bekerja dengan kerasnya.
Mas DY : Permasalahan
kedua, buat saya. Orang Indonesia umumnya tidak akrab dengan teknik
pemeliharaan. Kalau disuruh menghitung proyek pengadaan, pasti cepat
keluar hasilnya. Tapi tidak pernah disertakan biaya ideal perawatannya
tiap tahun.
CH : Sebelumnya mas perlu tahu karakteristik komponen biaya pada sebuah PLTN. Silakan baca link pada website saya :Komponen Biaya PLTN. Kesimpulannya,
biaya investasi PLTN itu lebih tinggi, namun karena biaya O&M serta
fuels nya lebih rendah, maka generating cost yang dihasilkan oleh PLTN
menjadi kompetitif dibandingkan dengan PLTU atau PLTG. Nah salah satu
point penting ketika kita akan pilih teknologi PLTN dari Negara yang
sudah advanced adalah masalah knowledge of technology transfer nya. Dan
tentu saja SDMnya akan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum
dilakukannya pembangunan PLTN, atau minimal berbarengan dengan
pembangunannya yang berkisar 8 tahun ( 2 tahun design, dan 6 civil
works).
Mas DY : Tp yah.. mungkin
untuk mengisi PLTN ini akan dipanggil orang-orang berbeda, dengan
semangat dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi tidak akan ada masalah.
Nah, alasan yang paling penting buat saya adalah mental pemerintah dan
swasta besar (yang memang umumnya besar di jaman Orba karena KKN). Coba
kita lihat kasus Lapindo, dan kita analogikan dengan masalah PLTN.
CH : Oleh karena PLTN adalah isu seksi karena menyangkut
kepentingan orang banyak, maka jika kita akan membangunnya, mari kita
awasi dengan benar-benar, jangan sampai ada yang korupsi. KPK kita
libatkan, transparansi ke public harus dilakukan. LSM dilibatkan dll.
Saya pikir kita semua rakyat Indonesia akan dapat dengan mudah
mengawasi kalau dilakukan bersama-sama, demi kebaikan kita juga.
Mas DY : Misalkan suatu
hari, hari H, PLTN kita mengalami musibah kebocoran. H+1, pihak PLTN
sibuk menyangkal berita kebocoran. H+3, pihak PLTN mengakui ada
kebocoran, tp hal itu bisa diatasi dan tidak perlu ditakutkan.
CH : Segala sesuatu itu
pasti ada resikonya. Begitu juga dengan PLTN. Probability bocornya
tetap ada, tetapi sangat kecil sekali. Accident di Chernobyl adalah
accident terburuk sepanjang sejarah, karena mereka tidak menggunakan
prosedur pembangunan keselamatan PLTN (mainly its containment yang
berfungsi untuk mencegah bocornya radiasi keluar bangunan). Event
tersebut senantiasa mengingatkan industri nuklir untuk selalu
mengutamakan safety. Nah sebelum kekhawatiran Mas Dhita diatas terjadi,
maka perangkat safety dari PLTN masa kini sudah mampu beroperasi secara
otomatis. Kalau mas pengen tahu animasinya, coba lihat disini : http://nuklir.info/OK/content/view/20/37/.
Contohnya misalnya gempa dahsyat yang menimpa PLTN Kasiwazaki Kariwa
Jepang tahun 2007 yang lalu. PLTN dapat shutdown secara otomatis, tanpa
mengeluarkan radiasi yang membahayakan kepada public disekitarnya. Baca
disini : http://nuklir.info/OK/content/view/25/36/
Saya sangat senang apabila bisa berdiskusi lebih lanjut dengan Mas Dhita. Untuk tambahan informasi Mas, silakan mengunjungi web saya http://www.nuklir.info atau web Indonesian Nuclear Society http://www.himni.or.id
Sukses selalu Mas Dhita,
Salam
Chairul Hudaya
|
Comments
RSS feed for comments to this post.