|
Reaktor Nuklir versus Bom mengingatkan saya akan Prof Achmad Baiquni. Seorang profesor yang mumpuni dibidang ilmunya,sangat jujur dan cinta tanah air. Beliau pernah jadi Kepala BATAN menggantikan Menteri G.A.Siwabessy yang merangkap sebagai Menteri Kesehatan dan Kepala BATAN.
Ketika saya akan diangkat menjadi Kepala Operasi Reaktor Triga di Bandung,setelah persyaratan administrasi/manajemen,saya diminta menghadap beliau sebagai Ka.BATAN.
Pertanyaan beliau mirip ujian terhadap mahasiswa,bedanya reaktor nuklir dan bom nuklir. Bagaimana kalau batang kendali reaktor Triga saya naikkan terus sehingga cukup tinggi, sedangkan sistem pengaman untuk membatasi kenaikan daya reaktor atau apa yang disebut perioda/pengaman, saya by-pass.Saya harus menerangkan latar belakang fisikanya dan korelasi matematiknya.
Reaktor adalah sistem dimana didalamnya terdapat
reaksi berantai secara terkendali,sedangkan bom nuklir bedanya adalah
tidak terkendali. Dalam reaktor Triga yang disebut reaktor termal,menggunakan netron termal untuk melaksanakan reaksi berantai
nuklirnya.Netron termal yang digunakan adalah netron dengan energi
0.025 eV yang menembaki inti U-235 sehingga terjadi fissi atau
pembelahan inti,jadi ada dua inti terbagi dua inti kira-kira 1/2 dari
inti U-235.
Selain itu lahir pula secara statistik 2,5
netron cepat, energi tinggi orde 1 MeV yang kemudian diperlambat oleh
moderator sehingga mencapai energi yang tepat untuk membelah U-235
yaitu energi 0.025 eV. Caranya adalah dengan tumbukan dengan atom
Hidrogen sebagai moderator.Sewaktu penurunan energi U-238 yang
merupakan komponen utama dari bahan bakar nuklir mempunyai sifat untuk
menyerap netron didaerah yang disebut resonansi.
Dari 2,5
netron, kalau mau kritis maka satu netron akan dipakai untuk
menggunakan reaksi fissi agar terjadi reaksi nuklir berantai. Bagaimana
mengendalikan reaktor,biasanya digunakan boron carbida atau cadmium
yang mempunyai sifat menyerap netron. Begitu batang kendali berada
didalam reaktor maka semua netron yang ada akan terserap oleh batang
kendali, jadi semacam rem dari reaksi berantai.Begitu keluar dari teras
reaktor maka netron bebas untuk melakukan reaksi dengan inti U-235.Jadi
begitu keluar mirip kita memberi akselerasi pada reaksi berantai.
Pertanyaan
Prof Baiquni, saya jawab dengan begitu ada kenaikan jumlah reaksi
berantai yang cepat karena kita menaikkan batang pengendali, maka daya
reaktor akan naik, yang mengakibatkan kenaikan temperatur dari bahan
bakar termasuk U-238. Dengan naiknya temperatur bahan bakar maka daerah
resonansi akan melebar yang menyebabkan lebih banyak netron terserap
didaerah resonansi, sehingga lebih sedikit yang mencapai energi termal
untuk dapat bereaksi dengan inti U-235.
Jadi reaktor dayanya
secara inherent akan turun begitu temperatur /daya naik. Biasanya
dengan adanya kendali reaktor maka perioda 7 detik saja reaktor akan
scram atau mati secara otomatis/namun sistem ini di by-pass,sehingga
kita menggunakan prompt negative response dari reaktor untuk mengatasi
kenaikan daya. Artinya reaktor tetap terkendali meskipun sistem
pengamannya kita by-pass.
Koefisien temperatur serentak (prompt temperature coefficient) selalu merupakan
persyaratan untuk desain reaktor, kalau tidak maka jangan harap akan
mendapat lisensi atau izin konstruksi. Semua persyaratan ini merupakan
syarat yang harus diberikan untuk izin konstrusi,kususnya Safety
Analysis Report dari reaktor.
Resonansi ini berkat adanya
Doppler Effect yang diturunkan berdasarkan Breit-Wigner formula. Selain
itu yang menyebabkan reaktor dapat dikendalikan adalah adanya netron
kasip atau delay neutron yang menyebabkan pengendalian reaktor lebih
mudah. Ada lagi rem lainnya yaitu moderator air karena panas akibat
naiknya daya maka jarak atomnya menjadi lebih luas sehingga lebih
banyak netron yang bocor keluar dari pada diperlambat untuk bisa
bereaksi dengan inti U-235.
Jadi intinya bahwa tidak mungkin
reaktor bisa meledak seperti bom nuklir. Memang kalau kita membaca umur
netron yang ordenya 10 pangkat minus 4, maka orang akan bingung
bagaimana sistem untuk mengaturnya, padahal alam itu ternyata punya
mekanisme yang dapat dimanfaatkan oleh designer untuk pengendalian
sistem. Karena mekanisme alam juga mempunya response yang sama cepatnya
sehingga reaktor nuklir dapat dikendalikan secara 100 persen. Jadi
reaktor bukan bom nuklir.
Sudah tentu ditambah pengaman dan
batang kendali yang mempunyai redundansi maka pengamanan akan lebih
tinggi lagi. Sebagai bayangan Rem mobil kita hanya satu sistem, mungkin
ditambah dengan rem tangan.Di reaktor seluruh sistem pengaman ada 3
secara paralel,sehingga satu gagal ada yang kedua dan kalau yang kedua
gagal ada yang ketiga. Hal yang membuat sistem lebih mahal namun lebih
aman.
Suatu hal yang menarik dari reaksi inti adalah berkat
korelasi E=mc2, Einstein, kita bisa mendapatkan energi sebesar 200 MeV
per reaksi inti, bayangkan bedanya dengan reaksi kimia dalam bahan
bakar fosil yaitu sebesar 3 eV per reaksi kimia. Karenanya Perencana
Agung,memakai energi Fusi Nuklir untuk Matahari. Seandanya matahari
menggunakan energi fosil maka sudah pasti tidak akan bisa berkiprah
hingga 10 Milyar tahun.
Untuk lengkapnya bisa baca Introduction
to Nuclear Engineering karangan J.R..Lamarsh. Dosen yang mumpuni
tentang Fisika Reaktor ; di ITB adalah Prof.Dr.Zaki Suud,jurusan
Fisika,di UGM,Prof Dr.Prayoto,sudah pensiun atau bisa ke Dr.Kusnanto di
Teknik Fisika UGM. Saya sendiri hanya pengguna teori-teori
Fisika, sehingga beliau-beliau yang lebih baik sebagai referensi.
Sangat
disayangkan sebenarnya bahwa prinsip pendidikan sebagai proses untuk
membebaskan diri dari ketidaktahuan, gagal berfungsi, dalam arti kita
tidak berhasil mencerdaskan bangsa, terutama yang 10.000 itu. Kasihan
bangsaku.
Salam Hormat,
Bakri Arbie.
|