Sesuai
dengan
judul diatas, saya ingin mengupas sebuah "doktrin" yang sering
didengungkan oleh mereka yang menolak PLTN, yaitu PLTN adalah bom
nuklir yang
dikendalikan. Saya tidak tahu siapa yang mempopulerkan pada awalnya,
namun dengan searching di google saja saya mendapatkan bahwa ungkapan
tersebut dikatakan oleh seorang professor doctor
bidang fisika disebuah universitas di Indonesia. Baca disini.
"Doktrin"
inilah yang menjadi salah satu tameng
bagi teman-teman yang menolak kehadiran PLTN di Indonesia. Bahkan pada tanggal 5
Juni 2007 bertepatan dengan Hari Bumi, para "green" NGO melakukan demonstrasi penolakan
kehadiran PLTN yang melibatkan masyarakat sekitar dan mengklaim paling tidak
10,000 warga Jepara dan sekitarnya berpartisipasi. Baca disini .
Karena
keberhasilan tersebut, saya ingin mengucapkan selamat, sebuah "pencerdasan"
(dalam tanda kutip) yang sangat luar biasa berhasilnya. Mengapa? Karena mampu
memberikan "pengetahuan" kepada minimal 10,000 orang tersebut dengan sebuah ungkapan/bahasa
yang mudah sekali diterjemahkan, bahkan oleh orang awam sekalipun. Dan bagi orang
awam, tentu saja akan mudah mengamini "doktrin" tersebut, apalagi yang
berbicara adalah seorang professor doktor.
Sindrom NIMBY (not in my back yard) di Indonesia ataupun dimanapun PLTN akan dibangun adalah
salah satunya mungkin juga diakibatkan karena pemahaman tersebut. Bayangkan
saja, meskipun ia adalah sebuah bom yang dikendalikan, namun bom adalah tetap bom,
yang tujuan awal dibuatnya untuk diledakkan, membinasakan umat manusia,
menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada. Apalagi jika bom tersebut jatuh
kepada orang yang tidak mengerti, atau sering mereka mengatakan, tidak selalu
disiplin, seperti banyak dijustifikasikan sebagian orang Indonesia kepada bangsanya
sendiri. Dikatakan bahwa, sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh
pegawai/operator PLTN, hancurlah seluruh kota karena efek radiasinya yang sangat
dahsyat, sembari membayangkan kasus kecelakaan Chernobyl.
Namun
sayangnya, "doktrin" tersebut sangat bertentangan dengan fakta dan realita dari
sebuah teknologi PLTN saat ini. Sebuah PLTN didesain untuk mampu menghadapi
situasi emergency dengan sendirinya (otomatis), tanpa adanya pengaruh dan
campur tangan manusia sebagai operatornya. Tidak tahu kah bahwa PLTN itu
memiliki 5 tingkatan proteksi terhadap pelepasan radiasi ke lingkungan, dimulai
dari fuel, cladding, closed coolant systems, reactor vessel dan containment? Tidak
tahu kah bahwa untuk shutdown sebuah PLTN dalam kondisi emergency hanya butuh
waktu 5 detik saja? Jadi tepatkah PLTN diibaratkan dengan sebuah bom atom?
Kemudian
ada pertanyaan, siapa yang berani menjamin 100% accident tidak akan terjadi?
Mati kutu lah kita jika ditanya seperti itu. Mengapa? Karena ini adalah sebuah
pertanyaan yang menjadi ranah Sang Maha Pencipta untuk menjawabnya. Manusia
hanya bisa mengusahakan agar segala sesuatu tetap selamat, tidak hanya PLTN,
tapi apapun itu.
Sekali
lagi saya ingin mengucapkan selamat…lanjutkan perjuangan…
|
Comments
Tapi, itu kan kalau statis atau tidak berkembang.Sekarang, faktanya, enrichment itu 19,75 %.PLTN bahkan bisa 0,7%. Quote
RSS feed for comments to this post.