Visitors: 249056
We have 31 guests online

Go PLTN Indonesia

Asal Pengunjung

Locations of visitors to this page

Live Chat

Online Technical SupportNuklir.INFO
© 2008 WIS.ro
Home
PLTN, Bom Nuklir dikendalikan : Doktrin yang sukses besar
Written by Chairul Hudaya   
Friday, 26 December 2008
Sesuai dengan judul diatas, saya ingin mengupas sebuah "doktrin" yang sering didengungkan oleh mereka yang menolak PLTN, yaitu PLTN adalah bom nuklir yang dikendalikan. Saya tidak tahu siapa yang mempopulerkan pada awalnya, namun dengan searching di google saja saya mendapatkan bahwa ungkapan tersebut dikatakan oleh seorang professor doctor bidang fisika disebuah universitas di Indonesia. Baca disini.

"Doktrin" inilah yang menjadi salah satu  tameng bagi teman-teman yang menolak kehadiran PLTN di Indonesia. Bahkan pada tanggal 5 Juni 2007 bertepatan dengan Hari Bumi, para "green" NGO melakukan demonstrasi penolakan kehadiran PLTN yang melibatkan masyarakat sekitar dan mengklaim paling tidak 10,000 warga Jepara dan sekitarnya berpartisipasi. Baca disini .

Karena keberhasilan tersebut, saya ingin mengucapkan selamat, sebuah "pencerdasan" (dalam tanda kutip) yang sangat luar biasa berhasilnya. Mengapa? Karena mampu memberikan "pengetahuan" kepada minimal 10,000 orang tersebut dengan sebuah ungkapan/bahasa yang mudah sekali diterjemahkan, bahkan oleh orang awam sekalipun. Dan bagi orang awam, tentu saja akan mudah mengamini "doktrin" tersebut, apalagi yang berbicara adalah seorang professor doktor.
 
Sindrom NIMBY (not in my back yard) di Indonesia ataupun dimanapun PLTN akan dibangun adalah salah satunya mungkin juga diakibatkan karena pemahaman tersebut. Bayangkan saja, meskipun ia adalah sebuah bom yang dikendalikan, namun bom adalah tetap bom, yang tujuan awal dibuatnya untuk diledakkan, membinasakan umat manusia, menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada. Apalagi jika bom tersebut jatuh kepada orang yang tidak mengerti, atau sering mereka mengatakan, tidak selalu disiplin, seperti banyak dijustifikasikan sebagian orang Indonesia kepada bangsanya sendiri. Dikatakan bahwa, sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh pegawai/operator PLTN, hancurlah seluruh kota karena efek radiasinya yang sangat dahsyat, sembari membayangkan kasus kecelakaan Chernobyl.

Namun sayangnya, "doktrin" tersebut sangat bertentangan dengan fakta dan realita dari sebuah teknologi PLTN saat ini. Sebuah PLTN didesain untuk mampu menghadapi situasi emergency dengan sendirinya (otomatis), tanpa adanya pengaruh dan campur tangan manusia sebagai operatornya. Tidak tahu kah bahwa PLTN itu memiliki 5 tingkatan proteksi terhadap pelepasan radiasi ke lingkungan, dimulai dari fuel, cladding, closed coolant systems, reactor vessel dan containment? Tidak tahu kah bahwa untuk shutdown sebuah PLTN dalam kondisi emergency hanya butuh waktu 5 detik saja? Jadi tepatkah PLTN diibaratkan dengan sebuah bom atom?

Kemudian ada pertanyaan, siapa yang berani menjamin 100% accident tidak akan terjadi? Mati kutu lah kita jika ditanya seperti itu. Mengapa? Karena ini adalah sebuah pertanyaan yang menjadi ranah Sang Maha Pencipta untuk menjawabnya. Manusia hanya bisa mengusahakan agar segala sesuatu tetap selamat, tidak hanya PLTN, tapi apapun itu.

Sekali lagi saya ingin mengucapkan selamat…lanjutkan perjuangan…

 

Comments  

 
#1 Dulu Enrichment 90 % 2009-07-12 20:49 Dulu s4 di Batan enrichment U235 itu 90%. Nah, bom atom itu enrichment 100%.Terus, 90% ke 100% itu kan *dekat*. Jadilah ini dijadikan argumen.

Tapi, itu kan kalau statis atau tidak berkembang.Sekarang, faktanya, enrichment itu 19,75 %.PLTN bahkan bisa 0,7%.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Next >
© 2007 - 2012 Nuklir.INFO
This website is using Joomla under GNU General Public License and template by Rhuk Solarflare II with modification
Contact Chairul Hudaya here