|
Written by Chairul Hudaya
|
|
Sunday, 16 November 2008 |
Tulisan dibawah ini berasal dari Blog Mas Setyowibowo, yang mengulas hasil workshop mengenai implementasi PLTN dilihat dari sisi power system Jawa Bali. Saya mengucapkan terima kasih atas ulasan yang diberikan oleh Mas Setyo dalam blognya. Pada tanggal 4 November 2008 bertempat di Grand Ballroom Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan diadakan workshop yang membahas isu teknis seputar rencana implementasi pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di sistem kelistrikan Jawa Bali. Workshop ini diselenggarakan oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PLN bekerjasama dengan The Japan External Trade Organization (JETRO) dengan menghadirkan pembicara dari ESDM, PLN Litbang, Mitsubishi Heavy Industry (MHI), PLN P3B Jawa Bali , dan JETRO. Peserta workshop melibatkan berbagai kalangan yang terkait dengan kelistrikan meliputi Kementrian ESDM, PLN, Industri dan juga para Akademisi.
Isu – isu teknis seputar rencana masuknya PLTN ke Sistem Kelistrikan Jawa Bali yang dibahas dalam workshop ini antara lain hasil studi analisis transient stability jaringan kelistrikan Jawa Bali tahun 2005 – 2025, kemampuan dan batasan operasional PLTN, Grid Code Jawa Bali, kebangkitan Nuklir, pengaruh masuknya PLTN terhadap kondisi jaringan kelistrikan Jawa Bali, dan diakhiri dengan diskusi panel.
|
|
|
Written by Chairul Hudaya
|
|
Sunday, 16 November 2008 |
|
Teknologi nuklir merupakan salah satu teknologi moderen yang berkembang pesat dalam bidang pertanian. Pemanfaatan teknik nuklir pada tanaman dapat digunakan untuk perbaikan varietas melalui mutasi dengan radiasi. Di Indonesia, kegiatan penelitian aplikasi teknik nuklir dalam bidang pertanian khususnya untuk pemuliaan tanaman telah dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional. Tujuan pengembangan penelitian teknik nuklir untuk pemuliaan tanaman adalah untuk memberi kontribusi kepada pemerintah dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional, kata peneliti dari BATAN Ita Dwimahyani, dalam seminar sehari yang diprakarsai Women in Nuclear Indonesia, organisasi yang beranggotakan para perempuan peneliti bidang teknologi nuklir , Selasa (11/11), di gedung pertemuan BATAN, Jakarta. Presiden Women in Nuclear Indonesia Tri Murni S Soentono menyatakan, selama ini istilah nuklir sering dikaitkan oleh sebagian besar masyarakat dengan bom nuklir atau bom atom karena efek negatifnya yang berpotensi dapat merusak kehidupan manusia di muka bumi. Oleh karena itu, sering terjadi pro dan kontra berkenaan dengan teknik ini. Meski nuklir merupakan teknologi berbahaya bagi manusia, tapi punya efek positif bila dapat memanfaatkan sifat-sifat hakiki dari tenaga ini untuk maksud damai.
|
|
|
Written by Chairul Hudaya
|
|
Wednesday, 12 November 2008 |
|
Oleh: Ferhat Aziz *) (Artikel ini telah terbit sebagai Kolom di Majalah Gatra 12 November 2008) Artikel ini menanggapi pandangan Tessa de Ryck, Juru kampanye Greenpeace, yang menyatakan energi nuklir sebagai „pilihan ganjil“ di Majalah Gatra 17 September 2008. Tessa menyimpulkan PLTN bermasalah dari segi biaya dan memiliki risiko keselamatan yang tinggi, sambil menyatakan masih banyak sumber energi alternatif di Indonesia. PLTN Kekhawatiran akan risiko keselamatan PLTN modern sangatlah berlebihan. Kebanyakan PLTN yang ada dewasa ini tergolong ke dalam teknologi Generasi II yang telah terbukti beroperasi dengan aman dan selamat. Namun begitu, PLTN yang akan digunakan dalam jangka pendek ke depan adalah dari generasi III dan III+ yang lebih ekonomis dengan keselamatan yang lebih ditingkatkan dan lebih pemaaf (forgiving) terhadap kemungkinan kekeliruan operator dan kejadian alam. Jenis PLTN ini bahkan telah terbukti beroperasi baik di berbagai negara Asia dan Eropa. Catatan asosiasi operator PLTN dunia, WANO, menunjukkan fakta bahwa pengoperasian PLTN selama dua puluh dua tahun terakhir sudah semakin aman dan selamat yang ditunjukkan oleh angka pemadaman otomatis tak diinginkan yang semakin turun.
|
|
|
Written by Chairul Hudaya
|
|
Wednesday, 12 November 2008 |
|
Oleh : Markus Wauran *) (Artikel ini diterbitkan di Suara Pembaruan Daily) Pengembangan dan pengaplikasian teknologi nuklir di Indonesia diawali dengan pembentukan Panitia Negara untuk penyelidikan Radioaktivitet pada 1954. Panitia Negara bertugas menyelidiki kemungkinan adanya jatuhan radioaktif dari uji coba senjata nuklir di Lautan Pasifik yang dilakukan oleh ne- gara-negara maju. Dengan memperhatikan perkembangan pendayagunaan dan pemanfaatan tenaga atom bagi kesejahteraan masyarakat maka melalui Peraturan Pemerintah No 65 Tahun 1958 pada 5 Desember 1958 dibentuk Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang kemudian disempurnakan menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), berdasarkan UU No 31 Tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. Di sisi lain, pada 1957, Indonesia menjadi Anggota IAEA (International Atomic Energy Agency). Dengan perubahan paradigma, pada 1997 ditetapkan UU No 10 tentang Ketenaganukliran di mana antara lain diatur pemisahan unsur pelaksana kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir (Batan) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), di samping ditetapkan perlunya dibentuk Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir. Di sisi lain, dengan UU tersebut nama Batan disesuaikan menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional. Tanggal 5 Desember ditetapkan sebagai hari jadi Batan, yang merupakan tanggal bersejarah bagi perkembangan teknologi nuklir di Indonesia.
|
|
|
|
<< Awal < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > Akhir >>
|
| Results 28 - 36 of 55 |