Sedikit ingin share mengenai pengelolaan limbah nuklir. Sebenarnya
aturan main dalam mentreatment limbah nuklir ini sudah dibuat oleh
badan tenaga atom internasional (IAEA). Sehingga, Indonesia sebagai
salah satu membernya pasti akan mengikuti arahan dari IAEA
tersebut. Prinsip dari arahan IAEA ini sangat menarik : "Pengelolaan
limbah nuklir harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak membebani
pada generasi yang akan datang", file-file guidancenya dapat dilihat
disini :
Berikut saya lampirkan pendapat Dr. Bakri Arbie terkait kekhawatiran (persepsi resiko yang berlebihan) dari sebagian masyarakat kita akan teknologi PLTN. Tulisan ini saya dapatkan dari milis Forum Pembaca Kompas pada tanggal 27 Desember 2008 yang menjelaskan lebih lanjut akan tulisan saya sebelumnya, PLTN, Bom Nuklir dikendalikan : Doktrin yang sukses besar.
Reaktor Nuklir versus Bom mengingatkan saya akan Prof Achmad Baiquni. Seorang profesor yang mumpuni dibidang ilmunya,sangat jujur dan cinta tanah air. Beliau pernah jadi Kepala BATAN menggantikan Menteri G.A.Siwabessy yang merangkap sebagai Menteri Kesehatan dan Kepala BATAN.
Ketika saya akan diangkat menjadi Kepala Operasi Reaktor Triga di Bandung,setelah persyaratan administrasi/manajemen,saya diminta menghadap beliau sebagai Ka.BATAN.
Pertanyaan beliau mirip ujian terhadap mahasiswa,bedanya reaktor nuklir dan bom nuklir. Bagaimana kalau batang kendali reaktor Triga saya naikkan terus sehingga cukup tinggi, sedangkan sistem pengaman untuk membatasi kenaikan daya reaktor atau apa yang disebut perioda/pengaman, saya by-pass.Saya harus menerangkan latar belakang fisikanya dan korelasi matematiknya.